Panen
"Pa, Kami isuk izin, moal sakola, ja ngabantu ema rek dibuat". (Pak saya besok izin tak masuk sekolah, membantu emak panen padi) Ucap Keken saat saya mengajar dikelas.
Keken adalah siswa kelas 8, ia anak kedua dari 3 bersaudara. Kakanya perempuan, bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga. Kakanya tak lulus SMP, berhenti ketika kelas 8 dan pergi ke kota untuk bekerja. Rayuan maut penyalur pembantu itu hingga Aan, kakaknya Keken rela meninggalkan bangku sekolah.
Adiknya laki-laki, masih duduk dibangku sekolah dasar. Keken dan adiknya rajin membantu orang tuanya. Menyediakan kayu bakar menjadi tanggung jawabnya. Selain itu, keseharian keken yang lain adalah mencari rumput untuk dua ekor kambinhnya. Kegiatan mencari rumput ia lakukan setiap hari kala pulang dari sekolah.
Keken tak boleh berhenti sekolah, lalu bekerja seperti sang kakak. Ia harus melanjutkan, minimal ia lulus dari SMP ini. Meski ia tak pernah menyebutkan cita-citanya, tetapi ia ingin lulus sekolah
Sejak dua tahun lalu ayahnya pergi mengadu nasib ke negeri jiran sebagai buruh kasar. Sehingga ibunya dirumah yang harus mengerjakan banyak pekerjaan. Mengurus sawah, dan kebun jadi tanggung jawabnya, sejak suami tercintanya pergi ke Malaysia.
Musim panenpun tiba. Di sisi jalan, banyak warga menjemur padi hasil panennya. Hanya sebagian kecil badan jalan yang tersisa, hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Kendaraan roda 4 jarang sekali melewati jalan desa itu, dalam sehari hanya satu atau dua saja yang lewat. Tak jarang dalam satu hari tak ada satupun kendaraan roda 4 yang melintas di jalan desa itu. Jika pun ada yang melintas, roda mobil dibolehkan untuk menginjak padi yang sedang dijemur.
Panen kali ini lebih bagus hasilnya, dibanding panen sebelumnya. Para petani terlihat bahagia menyambutnya, termasuk keluarga Keken. Ketika musim lalu, Keken tak ikut membantu ibu, karena hasil panen yang sedikit. Ibu bisa mengurusnya sendiri. Hari ini panennya bagus, hingga Keken harus meminta izin tak masuk sekolah.
Dilema, harusnya Keken masuk ke sekolah. Di sisi lain, ibunya juga harus dibantu memetik padi disawah. Kejadian seperti ini selalu terjadi dimusim panen pada Keken-Keken lain disekolah. Bukan hanya ketika panen tiba, ketika kegiatan ziarah di bulan Maulid hal serupa terjadi. Siswa sering tak masuk sekolah karena ikut kegiatan ziarah.
Membantu pekerjaan orang tua adalah bagian dari proses belajar. Selain mengajarkan kerja keras, kegiatan itu adalah membangkitkan empati anak terhadap orang tuanya. Anak menjadi faham beratnya bekerja untuk menghidupi keluarga..
Masalah lain di sekolah tempat saya mengajar adalah banyaknya orang tua yang bekerja jauh dari rumah, hingga tak bisa bertemu untuk membimbing anaknya setiap hari. Akibatnya beberapa anak berprilaku selalu menjengkelkan. Anak dalam posisi itu menjadi masalah dikelas. Sering mengajak teman sekelasnya bolos, merokok, dan nongkrong diluaran.
Tingkat pendidikan orang tua yang rendah, semakin memperparah kondisi sang anak. Orang tua bingung harus berbuat apa ketika kami para guru menyampaikan permasalahan anaknya. Meski kewajiban kami mendidik mereka semua, tetapi karena keterbatasan kemampuan, kami hanya bisa menyelamatkan yang mau diselamatkan. "Jika tidak bisa semua, jangan tinggalkan semua", itu petuah yang didengar dari seorang ulama khatismatik di kampung saya dulu.
Mendidik melelahkan, kadang harus menguras tenaga, fikiran, dan perasaan. Ketika kami lelah lalu menyerah, selesai sudah tak ada harapan bagi mereka untuk menatap masa depannya.
Komentar
Posting Komentar