Selera Menulis
Males makan, tetapi perut harus diisi. Jika berada dalam kondisi ini, maka harus ada upaya untuk menimbulkan selera makan. Saya jarang merasakan ini, tetapi beberapa orang sering menyampaikan bahwa mereka sering mengalaminya.
Jika merasakan ini, maka selera makan harus dipancing. Biasanya memancingnya dengan memulai menikmati beberapa jenis makanan agak berat, tetapi dengan porsi sedikit. Mie gelas, siomay, atau mencicipi sayur yang baru saja dimasak. Jika sudah dipancing biasanya langsung tergerak untuk menikmati makan berat.
Begitupun dengan menulis, sejak pagi keinginan menulis sudah ada, tetapi belum cukup terdorong untuk mengambil alat tulis kemudian memulainya. Saya terus memikirkan apa yang harus ditulis, tetapi tetap saja buntu, dan belum menemukan tema yang pas untuk diceritakan lewat goresan pena.
Yang dilakukan jika ada dalam kondisi seperti ini adalah dengan membaca. Hari ini majalah langganan saya datang, tak lama setelah sampai, saya langsung membuka lembarnya untuk memilih tema yang paling menarik untuk dibaca.
Saya menemukan tulisan bagus pada halaman 42, Judulnya "Berkunjung Ke Biara di Libanon". Tulisan itu menceritakan tentang kunjungan sang penulis ke biara. Penilis adalah Hajrianto Y. Thohari, ia adalah Dubes RI untuk Libanon. Beliau adalah penulis idola saya, jika dirinya tahu diidolakan oleh saya, pasti ia akan senang sekali. Pasalnya diidolakan oleh guru SMP satap, jarang sekali diraskan oleh para penulis lain di negeri ini.
Saya mulai membaca, tulisan dimulai dengan menceritakan fungsi biara bagi umat Kristiani. Biara digunakan untuk menyepikan diri, menjauh dari keramaian dan mendekatkan diri kepada tuhan.
Biara yang dikunjungi dan diceritakan oleh penulis adalah Biara Dir Mar Antonius Kozhaya. Biara yang indah, letaknya di atas pegunungan dan terpencil, jauh dari pusat kota. Biara itu indah sekali, banyak ruang dan bangunan di biara itu. Ada ruang berkhalwat, gereja, kamar-kamar, dan museum percetakan bahasa Arab pertama.
Biara adalah tempat yang dihormati, bukan hanya oleh ummat Kristiani, tetapi oleh muslim yang berkuasa pun biara sangat dihormati. Ketika zaman kekhalifahan (Bani Umayyah dan Abbasiah) pembangkang yang dikejar aparat, dan masuk ke dalam biara, maka akan aman. Aparat tak akan terus mengejar, ia akan tetap menunggu diluar untuk menghormati eksistensi biara, hingga yang dikejarnya keluar, atau diserahkan pihak biara. Toleransi dan bentuk penghargaan terhadap simbol agama lain, sangat dijunjung tinggi oleh Islam.
Di akhir paragraf dalam artikel yang ditulis oleh pak Dubes, ia menjaniikan akan meneruskan bahasan ini di edisi yang akan datang. Dia akan mengunjungi satu biara lagi.
Libanon punya sejarah panjang tentang kehidupan dua agama besar, Islam dan Keristen. Kerukunan kedua umat beragama disana sangat dijujung tinggi. Meski di Libanon sering terjadi konflik, tetapi yang jadi pemicu adanya konflik itu, bukanlah masalah keyakinan agama warganya.
Jika merasakan ini, maka selera makan harus dipancing. Biasanya memancingnya dengan memulai menikmati beberapa jenis makanan agak berat, tetapi dengan porsi sedikit. Mie gelas, siomay, atau mencicipi sayur yang baru saja dimasak. Jika sudah dipancing biasanya langsung tergerak untuk menikmati makan berat.
Begitupun dengan menulis, sejak pagi keinginan menulis sudah ada, tetapi belum cukup terdorong untuk mengambil alat tulis kemudian memulainya. Saya terus memikirkan apa yang harus ditulis, tetapi tetap saja buntu, dan belum menemukan tema yang pas untuk diceritakan lewat goresan pena.
Yang dilakukan jika ada dalam kondisi seperti ini adalah dengan membaca. Hari ini majalah langganan saya datang, tak lama setelah sampai, saya langsung membuka lembarnya untuk memilih tema yang paling menarik untuk dibaca.
Saya menemukan tulisan bagus pada halaman 42, Judulnya "Berkunjung Ke Biara di Libanon". Tulisan itu menceritakan tentang kunjungan sang penulis ke biara. Penilis adalah Hajrianto Y. Thohari, ia adalah Dubes RI untuk Libanon. Beliau adalah penulis idola saya, jika dirinya tahu diidolakan oleh saya, pasti ia akan senang sekali. Pasalnya diidolakan oleh guru SMP satap, jarang sekali diraskan oleh para penulis lain di negeri ini.
Saya mulai membaca, tulisan dimulai dengan menceritakan fungsi biara bagi umat Kristiani. Biara digunakan untuk menyepikan diri, menjauh dari keramaian dan mendekatkan diri kepada tuhan.
Biara yang dikunjungi dan diceritakan oleh penulis adalah Biara Dir Mar Antonius Kozhaya. Biara yang indah, letaknya di atas pegunungan dan terpencil, jauh dari pusat kota. Biara itu indah sekali, banyak ruang dan bangunan di biara itu. Ada ruang berkhalwat, gereja, kamar-kamar, dan museum percetakan bahasa Arab pertama.
Biara adalah tempat yang dihormati, bukan hanya oleh ummat Kristiani, tetapi oleh muslim yang berkuasa pun biara sangat dihormati. Ketika zaman kekhalifahan (Bani Umayyah dan Abbasiah) pembangkang yang dikejar aparat, dan masuk ke dalam biara, maka akan aman. Aparat tak akan terus mengejar, ia akan tetap menunggu diluar untuk menghormati eksistensi biara, hingga yang dikejarnya keluar, atau diserahkan pihak biara. Toleransi dan bentuk penghargaan terhadap simbol agama lain, sangat dijunjung tinggi oleh Islam.
Di akhir paragraf dalam artikel yang ditulis oleh pak Dubes, ia menjaniikan akan meneruskan bahasan ini di edisi yang akan datang. Dia akan mengunjungi satu biara lagi.
Libanon punya sejarah panjang tentang kehidupan dua agama besar, Islam dan Keristen. Kerukunan kedua umat beragama disana sangat dijujung tinggi. Meski di Libanon sering terjadi konflik, tetapi yang jadi pemicu adanya konflik itu, bukanlah masalah keyakinan agama warganya.
Komentar
Posting Komentar