Ujian Jelang Ramadhan
Hidup adalah ujian, dimanapun, kapanpun ujian akan selalu ada. Tak bisa dihindari, karena jika semakin menghindar maka ujian yang datang akan semakin berat. Susah senang, suka duka, harus dijalani, tak ada pilihan lain.
Perjuangan hidup tak akan pernah berhenti, masalah akan datang silih berganti. Jangan pernah berfikir akan terbebas dari masalah karena ingin berhenti dari perjuangan hidup.
Tiap orang mendapat ujian masing-masing, sesuai tingkat kemampuannya. Yang kaya, diuji dengan kekayaannya, yang miskin, diuji dengan kemiskinannya. Begitu pula yang pintar, yang bodoh, yang tak punya anak, yang punya banyak anak. Semua akan mendapat ujian sesuai kadar kemampuannya.
Hari ini para ibu di negeri +62 diuji dengan harga minyak goreng yang menjulang tinggi, jelang puasa hingga lebaran nanti, kembali akan diuji dengan kenaikan barang kebutuhan pokok lainnya. Setelah Idul Fitri, ujian berupa surat undangan resepsi akan terus berdatangan, karenanya harus siap merogoh kocek lebih dalam. Semua ujian itu menuntut kesabaran, jika tidak kepala akan jadi pening, bahkan bisa jadi akan pecah berkeping.
Banyak ujian dan masalah yang menimpa, dan kita membencinya. Rasa sakit yang datang, kekurangan harta, direndahkan, dan disakiti oleh orang lain adalah hal yang tak mengenakan. Tetapi jika difikirkan lebih dalam, bisa jadi hal buruk yang menimpa, jadi sebuah kebaikan. Atau ada hal baik dari peristiwa buruk yang dialami.
Kisah Hamzah paman nabi yang dibunuh oleh kafir Quraish adalah sebuah contoh. Tak cukup sampai disitu, setelah Hamzah terbunuh, seorang perempuan bernama Hindun menghampiri jenazahnya. Peremuan itu menyayat bagian dada Hamzah, kemudian mengambil organ jantung dan mengunyahnya. Peristiwa itu sangat menggores hati Nabi Muhammad, dan para sahabatnya, tetapi dari peristiwa yang menyedihkan itu, Hamzah syahid. Syahid adalah proses kematian indah yang diharapkan kedatangannya oleh seluruh orang beriman. Keindahan yang diawali dari hal yang menyakitkan.
Kisah lain datang dari seorang ulama pujangga, Hamka. Ia dipenjarakan oleh Soekarno selama lebih dari 4 tahun. Perlakuan kejam dari aparat saat itu, hampir saja tak kuat ia hadapi. Ia harus merasakan tinggal di dalam jeruji besi tampa melewati proses pengadilan. Meski demikian penjara bukanlah akhir dari perjalanan seorang Hamka. Didalam penjara yang pengap ia berhasil menulis sebuah buku, Tafsir Al-Azhar. Kehidupan penjara yang membatasi raga, tetapi memberi kebebasan ia dalam berfikir. Dari penjara ia bisa membuat buku, buku yang jika ia susun di luar penjara bisa memakan waktu 20 tahun lamanya.
Solat dan sabar adalah cara terbaik menghadapi semua ujian itu. Muslim yang baik harus mengetahui bahwa ujian yang datang silih berganti adalah kehendak Allah, maka solusi atas ujian ini akan datang dari Allah. Muslim juga wajib meyakini akan datang kemudahan setelah kesulitan. Meyakini hak itu, akan menjadi lebih riangan tiap ujian yang datang menghampiri.
Wallahu a'lam.
Luar biasa pa Dadang,ujian selalu bergantian,intinamah tergantung diri kita masing masing👍👍 pa Dadang👍👍
BalasHapus