Berbuka
Sore itu kami didatangi 4 orang murid. Kedatangan mereka untuk berbuka puasa bersama dengan kami gurunya. Satu jam jelang berbuka mereka datang dengan membawa menu terlezat, yang di masak ibunya dirumah.
Ida Nurlinda, Asma, Masna, dan Iis. Mereka sudah berjanji sejak siang akan datang ke rumah dinas yang saya tempati, untuk berbuka bersama. Janji itu yang membuat kami tak menyiapkan menu yang akan kami santap pada buka puasa nanti.
Biasanya saya dan pa Dian selalu memasak jelang sore hari. Memasak dengan menu seadanya. Bahan makanan yang ada diwarung memang terbatas variasinya. Lauk yang dijual hanya ikan asin, telur, dan sarden. Sementara sayur yang tersedia diwarung hanya kol, sawi, dan kangkung.
Sekitar jam 17.13 WIB mereka sudah sampai di rumah dinas yang saya tinggali. Menu yang dibawa langsung mereka tata di atas tikar ruang tengah. Rantang yang dijinjing dibuka dari susunannya, lalu diletakan berderet. Kolak, gorengan, nasi, dan lauk dikeluarkan lalu dihidangkan. Minuman manis tak lupa disuguhkan. Fanta yang dibeli pa Dian di mini market kala perjalanan menuju sekolah, masih tersisa.
Setelah menu siap, kami duduk melingkar mengitari menu yang siap disantap. Kami berbincang bersama. Tema yang kami perbincangkan adalah tentang melanjutkan sekolah setelah mereka lulus dari SMP ini. Kami para guru disekolah ini selalu mendorong mereka agar punya cita-cita. Dengan cita-cita yang ingin digapai, mereka akan sendirinya sungguh-sungguh dalam belajar.
Ida Nurlinda ingin menjadi guru, Asma ingin melanjutkan ke pesantren karena ingin menjadi ustadzah. Masna ingin ke SMA, dan tinggal di pondok yang tak jauh dari sekolah itu. Masna yang bersuara emas, ingin jadi penyanyi. Iis ingin bersekolah ke ibukota kabupaten. Disana ada sekolah kejuruan, dan ia ingin menjadi sekretaris.
Mereka ber 4 anak yang rajin, dan aktif disekolah. Tiap kegiatan yang diselenggarakan sekolah, mereka antusias mengikutinya. Tak hanya itu, mereka selalu punya usul untuk beberapa kegiatan yang ada disekolah.
Sedang serunya berbincang, azan magribpun berkumandang. Kami menghentikan obrolan petang itu. Hening fokus pada suara yang keluar dari toa mesjid. Kami saling melempar senyum ketika sudah memastikan itu siara adzan magrib. Doa berbuka dibacakan, lalu kami memulai berbuka dengan meminum seteguk air.
Setelah shalat magrib, saya menggelar acara berbincang. Ingin mendengar keluh kesah, dan harapan mereka. Mereka saya minta untuk bicara apa saja, yang berkaitan harapannya kedepan. Disela mereka menyampaikan itu, saya coba bicara hal yang bisa memotivasi mereka. Memberi mereka harapan tentang masa depan.
Puluhan tahun lalu, ketika saya masih menjadi siswa di sekolah, kami sering dinasehati, dimarahi, bahkan dihukum. Semua yang ditimpakan itu, beberapa masih saja melekat dalam ingatan. Banyak nasehat yang masih terngiang hingga kini meski sudah berpuluh tahun. Hal itu yang coba saya terapkan pada mereka saat ini.
Moment spesial di Ramadhan ini, saya coba memberi mereka harapan untuk masa depannya. Kalimat yang saya sampaikan di moment ini mungkin akan terus mereka ingat. Anak kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota, hingga mereka miskin motivasi. Ekonomi sulit yang dialami mereka, semakin memperparah kondisi ini.
Hanya memberi mereka dorongan, tak lebih. Karena itu yang saya punya.
Pendengar yang baik. Hehe
BalasHapusTerimakasih telah berkunjung pak Padil.
HapusWaahh makasih padadang sudah ditulis semangat🤩💪🏻
BalasHapusBerasa ikut berbuka bersama. Seru.
BalasHapusSemangat terus pak Dadang untuk memberikan motivasinya 👍
BalasHapusYa Allah perjuangan banget bagi pak Dadang dan teman2 di sekolahnya di saat puasa seperti ini. Berbuka tanpa keluarga, menu pun sangat sederhana. Semoga Allah melimpahkan berkah untuk Pak Dadang dan teman2..
HapusTerimakasih Ambu dan bu Sipah.
HapusLuar biasa pak guru kita dan sangat dekat dengan muridnya
BalasHapusTerimakasih komenya omJay.
Hapus