Jelang Lebaran
Hari ini saya dan istri pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap di kabupaten Bogor. Letaknya tak jauh dari kantor bupati. Memilih datang kesana karena biasanya banyak toko yang memberi diskon dagangannya.
Tehaer baru dua hari yang lalu masuk rekening, hingga baru hari ini bisa membeli beberapa potong pakaian untuk kami sekeluarga kenakan dihari raya nanti. Pakaian yang kami beli cukup yang sederhana saja, yang harganya terjangkau. Meski bukan baju bermerk, yang penting nyaman dikenakan.
Mencari pakaian dengan harga miring, tapi nyaman dikenakan butuh waktu dan ketelitian. Toko besar dengan koleksi ratusan merk kami jelajahi. Tak ada satu sudutpun yang terlewat. Menimbang model, warna yang cocok, dan harga yang lebih miring terus dilakukan. Posisi saya hanya menemani istri, saya hanya memberi masukan ketika ia meminta pertimabangan barang mana yang dianggap lebih pas untuk dipilih.
Ternyata lelah juga, meski toko nyaman dan ber AC. Tenggorokan tetap terasa kering, karena puasa. Terlebih melihat beberapa food cort tetap buka, dan hanya dihalangi tirai. Dari balik tirai, terlihat beberapa orang sedang nikmat menyantap hidangan. Benar-benar menggoda, terlebih aroma yang menyebar dari gerai makanan sempat tercium.
Hampir semua gerai makanan buka, ada Solaria, Hoka-hoka Bento, Pizza Hut, Bakso Lapangan Tembak, dan bebera restoran Korea. Dilantai dua lebih banyak lagi tempat makan yang menjajakan dagangannya. Yang menggoda itu ketika berjalan didepan gerai roti BreadTalk. Meski roti itu bukan makan favorti saya, tetapi aroma harum yang menyebar dari toko roti itu membuat saya berimajinasi rasa yang hampir saja menggoyahkan iman. Begitupun dengan Gerai Chatime yang menyediakan aneka minuman segar seolah memangil-manggil saya untuk mendekat. Ingin rasanya datang untuk menyibak tirai, lalu masuk kedalamnya. Untungnya saya tetap istiqomah dengan puasa yang dijalankan.
Saya ke toko lain, mencari model dan harga pakaian yang cocok. Sambil mengisi kegabutan suasana, saya coba buka smartphone. Beberapa pesan lewat grup Whatsapp sudah banyak yang masuk. Saya buka satu persatu, nampaknya hanya pesan biasa yang tak harus dijawab atau dikomentari. Beralih ke status WA yang di publish, saya kaget, karena beberapa teman mengupload berita tentang bupati Bogor yang tertangkap tangan KPK.
Sebagai warga Bogor saya kecewa dan prihatin. Harusnya hal ini tak boleh terjadi. Sebagai pejabat, harusnya beliau lebih hati-hati dalam bertindak. Kekecewaan saya terlihat oleh istri, raut wajah saya nampak beda katanya. Iapun menanyakan apa yang terlintas difikirkan hingga saya terlihat sedang bermasalah.
Belanja siang inipun selesai, setelah istri antri dan membayar barang di kasir. Setelah selesai bertransaksi saya bergegas menuju masjid di lantai paling atas. Saya menunaikan shalat zuhur bergantian. Karena harus menjaga barang belanjaan dan sepatu yang dikenakan. Selesai shalat kami menuju tempat parkir.
Sampai ditempat parkir saya menuju dimana sepeda motor disimpan. Setelah sampai, motor saya naiki, mesin langsung dinyalakan. Harus memutar searah menuju pintu, agar tak macet didepan loket keluar. Meski demikian, volume kendaraan yang banyak, hingga antrian kendaraan tak bisa dihindari. Ada sekitar 10 kendaraan didepan saya, saya tetap sabar untuk antri. Di samping jalur antri terpampang spanduk bertuliskan himbauan agar mesin kendaraan dimatikan.
"Untuk kesehatan bersama, mohon mesin kendaraan dimatikan ketika antri" isi pesan dalam sepanduk itu.
Melihat tulisan itu sayapun mematikan mesin. Saya berfikir, pengendara lain mengikuti apa yang saya lakukan. Sepanduk itu lumayan besar, jumlahnya 2 buah, pastinya semua pengendara dapat melihat kedua spanduk itu. Karena mesin saya matikan, maka saya harus menggerakan motor dengan tumpuan kaki. Jika motor yang ada didepan maju, saya mengikuti dengan menumpukan kaki agar roda motor berputar kedepan.
Dari sepuluh atau belasan sepeda motor yang mengantri, hanya saya yang mematikan mesin kendaraan.
"Saya atau mereka yang tetap menyalakan mesin yang salah?". Tanya saya kepada istri yang membonceng dibelakang.
"Merekalah..." jawabnya singkat.
Jikapun pertanyaan itu dilontarkan kepada orang lain, jawabannya adalah saya ada diposisi yang benar. Meski demikian seperti sayalah yang salah. Karena hanya saya sendiri yang melakukan itu. Pengendara lain cuek dan tak peduli dengan himbauan itu.
Saya mematikan mesin karena malu. Sepanduk himbawan yang tertulis jelas meminta kami para pengendara mematikan mesin. Jika tak menuruti himbauan itu, seperti tak punya akal sehat. Seperti orang egois yang hanya berfikir untuk dirinya sendiri saja.
Pengendara hanya berada beberapa menit saja di antrian parkir itu. Jika pun menghirup gas karbon sisa pembakaran mesin tak terlalu beresiko. Coba pikirkan petugas parkir yang bekerja disana, jika para pengendara tak mematikan mesin-mesinya maka sepanjang hari ia akan mengirup gas karbon sisa pembakaran mesin kendaraan.
Tindakan saya mematikan mesin, diantara pengendara lain yang tetap menyalakan mesin sepertinya tindakan bodoh. Tetapi tak mengapa, biasa saja. Kadang kita harus terkesan gila untuk sebuah kebaikan.
Kesadaran harus terus dibangun, hal-hal seperti ini harus juga jadi perhatian kita. Berfikir dan bertindak lebih bijak harus dimulai dan dibiasakan.
Komentar
Posting Komentar