Hidup dan Berubah
📱📱📱
Sebuah pesan singkat masuk lewat aplikasi WA. Saya tak lantas membukanya. Membiarkan hp itu tergeletak di atas meja. Nomor yang tanpa nama, selalu slow respon saya tanggapi. Saya memilih meneruskan aktifitas lain, membereskan buku yang susunanya sudah tak rapi lagi.
Buku di rak ada dua susun, satu susunnya terdapat 10 buku. Semua buku di rak sudut itu ada 20 buah. Buku terbanyak adalah jenis novel. Novel terbanyak adalah karya Tere Liye. Saya menyusunnya berdasar urutan terbit. Yang diletakan paling bawah berjudul Komet, kemudin diatasnya berjudul Selena, Nebula, Lumpu, dan yang paling atas Si Putih.
📚📚✒️✒️
Setelah selesai merapikan susunan buku, barulah saya ambil hp yang sedari tadi diletakan di atas meja di ruang keluarga. Beberapa pesan pribadi, dan grup sudah masuk. Saya buka satu persatu, ada yang dibaca hingga tuntas, ada pula yang dilewat begitu saja.
Pesan tanpa nama kontak itu saya buka, dengan seksama saya membacanya. Ternyata pesan itu datang dari seorang alumni SMP yang dua tahun lalu lulus. Isi pesan pertama yang disampaikan adalah info nama dan angkatan kelulusannya.
Saya langsung ingat, Namanya Bayu, tinggal di kampung Cireundeu. Ketika sekolah dulu, ia anak yang bandel. Hampir setiap hari terlambat, pakaian dikeluarkan, rambut diwarnai pirang, hingga terlihat mirip rambut orang Eropa. Yang membuat kepala pening adalah ketika ia berkelahi.
🧑🏿🦰🧑🏿🦰
Jika berkelahi disekolah, ia langsung kabur dan mengundang teman sekampungnya. Jika sudah seperti itu, maka jawara kampung berdatangan ke sekolah dengan menyoren golok di pinggangnya.
Kejadian tersebut bukan hanya sekali saja, tetapi sudah berkali-kali terjadi. Menghadapi itu saya harus tenang, meski khawatir jadi sasaran kemarahan tetap ada. Meski golok panjang ada di pinggangnya, saya yakin itu tidak akan dicabutnya. Karena yakin mereka masih menghargai saya sebagai guru. Tak mungki mereka tega melukai saya.
Saya membalas pesannya, saya sampaikan bahwa saya baik-baik saja. Kemudian giliran saya melempar pertanyaan. Saya memberi pertanyaan yang hampir sama, yaitu menanyakan kabar dirinya. Tak lama sebuah pesan balasan pun masuk.
"Alahmdulillah pak sehat, saya sekarang di Malaysia pak🙏🏻" itu isi pesan yang Bayu sampaikan.
Senang sekali mengetahui kabar Bayu, saya tersenyum membaca pesan yang mengabarkan bahwa ia baik-baik saja.
Kenapa senang ?, karena saya tak pernah menyangka ia menyampaikan kabar itu. Anak sebandel dan seurakan itu ternyata masih ingat dengan saya guru SMP-nya dulu. Senang lainnya yang dapat saya rasakan karena sekarang sikap dan prilakunya lebih baik.
Harusnya ia masih duduk di bangku SMA. Bersekolah, bukan lantas memutuskan untuk pergi merantau ke Malaysia. Alasan ekonomi bisa jadi penyebabnya. Sebagai anak laki-laki tertua, ia ikut bertanggung jawab dengan keadaan ekonomi keluarganya.
Bagi saya kepergiannya merantau lalu bekerja disana adalah sebuah keberhasilan. Tak pernah menyangka ia akan melakukan itu, apalagi jika terlintas peristiwa kenakalan yang pernah dibuatnya. Perubahan sikap yang terjadi pada dirinya, membuat saya bangga terhadap Bayu.
Mungkin banyak orang menganggap itu bukan prestasi. Bagi saya itu adalah sukses terbesarnya, karena tak pernah menyangka ia bakal bersikap seperti itu.
Ketika ia menanyakan kabar saya, disusul dengan kalimat permemintaan maaf atas kesalahan masa lalunya. Kemudian ia meminta agar maaf itu juga disampaikan kepada semua gurunya disekolah dulu. Itu adalah sebuah keberhasilan. Di zaman sekarang ini, banyak orang yang merasa benar, meski mereka salah. Jangankan untuk meminta maaf, merasa salahpun tak pernah ada.
Mungkin saya diprank oleh Bayu, ia tak berubah dan masih seperti yang dulu. Tetapi naluri saya mengatakan tidak. Ia sudah berubah. Dari kata yang dipilih untuk menyusun kalimat maafnya, saya yakin ia sudah jadi anak yang baik sekarang.
👨🏼⚖️👨🏼⚖️
Komentar
Posting Komentar