Hujan Bersama Mie Instan
Hujan tak kunjung reda, sudah satu jam lalu saya menunggunya. Segelas kopi, dan semangkuk mie rebus sudah tak tersisa, tetapi tak ada tanda hujan segera reda.
Mie rebus dengan merk ternama yang sejak puluhan tahun sudah ada. Produksi perusahaan lokal yang sudah merambah pasar global. Jika orang Indonesia pergi haji dan umroh ke tanah suci, mie inipun mudah didapat di sana.
Semangkuk mie panas kala hujan yang dingin memang begitu nikmat. Terlebih jika rasa pedasnya terasa. Semangkuk mie yang disajikan teteh yang manis itu luar biasa. Sedikit saus, kecap, dan lada tabur dituangkan, kemudian diaduk merata. Adukan yang rata membuat rasa semakin nikmat. Selain itu aroma yang timbul dari adukanpun dapat menggugah selera.
Tak hanya mie yang sudah direbus, di dalam mangkuk itu ada pula sayuran dan telur. Perpaduan antara karbohidrat, vitamin, dan protein dalam satu menu yang lezat.
Jika diminta menyebutkan 5 menu terlezat versi saya, maka saya akan menuliskan mie rebus itu di urutan ke 3. Dua menu di atasnya adalah pais peda, dan semur jengkol.
Menikmati mie instan jarang sekali dilakukan, tak satu kali dalam sepekan. Dalam sebulan mungkin hanya 1 atau dua 2 kali saja.
"Ko, mengapa jarang menikmatinya, katanya lezat?".
Jarang menikmati karena saya pernah punya pengalaman agak pahit dengan mie instan.
Puluhan tahun lalu, kala itu usia keponakan laki-laki saya sekitar 8 atau 9 tahun. Ia menderita pengapuran di otaknya. Karena penyakitnya itu, ia harus bolak-balik ke rumah sakit. Tiap dua pekan sekli ia harus datang ke RS. Fatmawati Jakarta untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Saat itu saya belum bekerja, sehingga saya yang sering diminta untuk mendampinginya pergi kedokter.
Berbulan-bulan pengobatan itu dilakukan, lelah sekali. Apalagi ketika menuju rumah sakit itu, kami harus beberapa kali menaiki angkot. Angkot pertama kami naiki di gang dekat rumah, angkot pertama hanya mengantarkan kami hingga ke terminal pasar Parung. Dari sana, kami naik angkot ke 2 trayek Parung-Lebak Bulus.
Jarak antara Parung dan Lebak bulus sekitar 20 KM, ditempuh dengan waktu 45 menit. Tak sampai ke terminal, kami turun di halte Sekolah Kepolisian Wanita Jakarta Selatan, dari sana barulah kami naik angkot terakhir menuju RS Fatmawati. Angkot warna putih jurusan Ciputat Pondok Labu. Kami turun dihalte rumah sakit.
Rutinitas yang melelahkan, alhamdulillah akhirnya keponakan sayapun sembuh. Ketika ditanyakan ke dokter tentang penyebab penyakitnya itu, dokter menjawab bahwa ada kemungkinan karena sering mengkonsumsi mie instan. Sejak saat itu, saya berusaha untuk mengurangi menikmati mie instan.
Hujan reda. Si teteh penjaga warung saya panggil, iapun mendekat. Saya menanyakan harga dua menu yang tadi dipesan.
"14.000,- Om.." jawabnya.
Tak lantas membayarnya. Sejenak berfikir.
"Om..?" ucap saya pelan.
Sudahlah, uang disaku saya keluarkan. 2 pecahan 5.000, dan 2 lembar pecahan 2.000.
Setelah dibayarkan, saya melanjutkan perjalanan.
Enak ya "Om" menikmati mi saat hujan. Apalagi yang menyajikannya cantik, he ... he .... Konsumsi apa pun jika berlebihan akan menjadi penyakit. Iis tulisan yang sederhana dikemas dengan bahasa yang bernas menjadi sangat menarik dan enak dibaca.
BalasHapusPerihatin, dan menjadi contoh agar kita bisa menjaga kesehatan
BalasHapus