Nenek Tua Pemintal
Sejak pagi setelah mengikuti kajian Ahad subuh saya langsung berkemas. Hari ini saya hendak kembali berkunjung ke tanah Baduy ditemani oleh istri tercinta.
Sebelum berangkat, saya memastikan barang bawaan. Satu stel baju, sudah dilipat dan dimasukan kedalam tas gendong. Jas hujan tak lupa juga dimasukan bersama dengan baju. Meski tak ada rencana menginap, baju salin mesti dibawa karena khawatir turun hujan. Pasti tak nyaman, jika baju yang dikenakan basah karena hujan. Untuk itu satu stel pakaian wajib disiapkan. Di teras rumah, saya langsung mengenakan sepatu yang biasa dipakai untuk naik gunung.
Saya siap berangkat, jacket dan helm sudah dikenakan. Tak lama sayapun langsung tancap gas. Ketika berangkat, matahari belum memancarkan sinarnya, sehingga lampu kendaraan masih harus tetap menyala. Jalan sepi hingga saya leluasa memacu kendaraan. Pada hari kerja, lalu-lintas di jalan ini selalu padat, tetapi tidak di hari ini. Hanya beberapa saja kendaraan yang berpapasan dengan kami.
Semakin lama hari semakin terang. Kendaraan sudah mulai ramai. Tamasya kali ini sengaja memilih destinasi alam. Selain lebih murah, juga menyalurkan hobi hiking yang sudah jarang dilakukan. Sejak berseragam abu-abu. Saya sudah hobi dengan kegiatan yang satu ini.
Setelah satu jam berkendara, saya berhenti disebuah mini market. Membeli dua botol air mineral, roti, dan biskuit. Roti langsung dinikmati untuk sekedar mengganjal perut, agar tak masuk angin. Rencananya kami sarapan di warung nasi H. Ohim depan kantor polisi Sektor Muncang.
Kami bergegas bangkit dari kursi di depan mini market untuk melanjutkan perjalanan. Motor yang terparkir kami naiki, langsung starter, dan berangkat. Tak jauh dari mini market kami mampir ke stasiun pengisian bahan bakar. Saya memilih mengisi bahan bakar dengan pertamina turbo. Memilih bahan bakar dengan kualitas terbaik untuk memanjakan mesin kendaraan. Selain itu menggunakan bahan bakar ini menjadikan pembakaran lebih bersih, hingga mengurangi polusi udara. Ron bahan bakar ini lebih tinggi dibanding dengan pertalite yang hanya 88, dan pertamax yang 92.
Selesai mengisi BBM perjalanan dilanjutkan. Tak lama kami memasuki wilayah kecamatan Jasinga. Kecamatan ini di ujung barat kabupaten Bogor. Berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Lebak di provinsi Banten. Setelah melewati kota kecamatan, pemukiman disisi jalan mulai tak nampak lagi. Yang ada rimbunnya semak dan perkebunan sawit. Kami terus menyusuri jalan Nasional yang mulus. Perbatasan semakin dekat, perkebunan sawit yang rimbun di kiri kanan jalan, membuat perjalanan terasa teduh.
Tugu perbatasan sudah terlihat. Ucapan selamat datang tertulis di tapal batas itu. Saya melewati tugu tanpa berhenti, hanya sedikit menoleh. Tanah jawara ditapaki, saya terus memacu kendaraan lebih tinggi agar bisa sampai lebih cepat. Tak lama kami sampai di pasar Gajrug. Laju kendaraan mulai melambat, penyebabnya banyak kendaraan yang diparkir hingga memakan badan jalan.
Melewati pasar Gajrug jalan kembali lancar meski kendaraan tak bisa berlari cepat. Sisi kiri kanan jalan yang banyak pemukiman penduduk, jadi penyebab tak bisa berkeceparan tinggi. Tetapi beberapa kilometer kemudian jalan kembali sepi. Hutan milik perusahaan plat merah yang rimbun, hutan homogen, yang hanya ada dua jenis pohon saja. Salah satunya adalah pohon pinus. Pohon dengan daun jarum dan biji terbuka.
Beberapa saat kemudian kami memasuki wilayah kecamatan Muncang. Setelah melewati pasar Ciminyak ada warung makan H. Ohim. Warung itu terletak tepat di seberang kantor polisi sektor Muncang.
Jam 08.39 saya sampai diwarung itu. Masih terlalu pagi, hingga menu yang disajikan hanya beberpa saja. Hanya ayam kuah santan, tempe dan tahu goreng, semur jengkol, dan sambal hijau. Sate dan sop ikan kesukaan saya belum dipajang di etalase menu. Ketika saya tanyakan, menu itu masih dalam proses memasak. Kecewa tak bisa menikmati menu kesukaan saya pagi ini.
Setelah perut ini terisi, perjalanan kami lanjutkan. Tak berapa lama kami memasuki desa Cisimeut yang melegenda dengan kisah kejawaraannya. Jembatan kuning icon desa Cisimeut sudah kami lintasi, jembatan itu sepertinya sudah tua sekali. Meski sudah tua, jembatan itu nampak kokoh, sehingga masih kuat menahan beban berat kendaraan yang melintas di atas punggungnya. Melewati Desa Cisimeut yang indah, menuju kampung Ciboleger.
Terus menyusuri jalan menuju kampung Ciboleger, kampung terakhir yang berbatasan langsung dengan pemukiman Suku Baduy. Beberapa belas menit kemudian gapura selamat datang melengkung nampak terlihat. Itu tandanya kami sudah sampai di kampung Ciboleger.
Memasuki area parkir di termimal kampung Ciboleger, saya memilih tempat yang teduh dan nyaman untuk memarkir kendaraan. Setelah menemukan lokasi parkir yang nyaman saya berhenti dan langsung meletakan motor yang saya kendarai. Tak lupa menguncinya, agar merasa tenang ketika saya meninggalkannya kala menikmati keindahan alam dan keunikan kampung masyarakat Baduy.
Kami bersiap, kemudian memeriksa tas dan barang bawaan. jangan sampai ada yang tertinggal. Setelah yakin dengan barang bawaan, barulah kami melangkah menuju pintu masuk kampung Kadu Ketug. Kampung Baduy yang perbatasan langsung dengan kampung Ciboleger. Sebelum masuk, kami berdua berpose dengan berswa poto dibawah patung selamat datang.
"Ckrek" sekali lagi
"Ckrek" kamipun berlalu.
Bagi saya, ini adalah kunjungan kedua, sedangkan bagi istri ini adalah kunjungan pertama. Terakhir berkunjung ke kampung Baduy sekitar 5 bulan lalu, sehingga beberapa titik masih bisa saya ingat. Salah satu yang masih diingat adalah kediaman Dewi. Ketika lewat didepan rumah Dewi, saya tak melihatnya. Saya menoleh kesana kemari, tetapi ia tidak juga terlihat. Alat tenun yang biasa ia gunakan juga tidak ada. Yang terlihat hanya beberapa barang dagangan yang biasa ia jajakan kepada pengunjung. Rencananya kami akan berhenti disana untuk istirahat dan berbincang dengan Dewi. Karena tak menemukannya, akhirnya saya memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan.
Dewi adalah perempuan Baduy yang sangat Cantik. Kulitnya putih, berperawakan tinggi, dan berhidung mancung. Konon katanya ia pernah beradu peran dengan Laudya Cynthia Bella dalam film Ambu. Film dengan seting kehidupan masyarakat Baduy.
Sejauh mata memandang jalan menanjak yang tak berujung, melewati beberapa leuit atau lumbung padi yang sepertinya berusia puluhan atau mungkin ratusan tahun. Begitu pula dengan isi didalamnya. Konon kabarnya, padi yang ada di dalamnya hampir sama dengan usia lumbungnya.
Kami terus melangkah, menapaki jalan berbatu yang melelahkan. Sejenak menghentikan langkah untuk beristirahat, sambil meneguk air yang dibeli di mini market dalam perjalanan tadi. Dalam istirahat ini kami berbincang tentang kehidupan suku ini yang sangat unik. Membincangkan kulit gadis Baduy yang nampak putih bersih alami tak luput diperbincangkan. Kulit yang kontras sekali dengan lipstik merah mencolok yang mereka gunakan.
Perjalanan dilanjutkan kembali. Bagi saya, melewati hutan dengan berjalan kaki adalah hal biasa. Selain hoby hiking, lingkungan saya mengajarpun kurang lebih sama. Karena sekolah tempat saya mengajar berada ditengah Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Sehingga berjalan ditengah hutan jadi hal biasa yang saya lakukan.
Keringat bercucuran, ketika kami berdua sampai di kampung Gajebo. Rumah-rumah disana yang bersih dan tertata rapi menjadi tempat kami melepas lelah. Sejuk sekali rasanya, terlebih ketika saya coba merebahkan diri di balai bambu teras rumah panggung itu. Semilir angin berhembus menambah nikmatnya istirahat kami. Kehidupan damai merekapun ikut kami rasakan.
Tepat di depan rumah tempat kami beristirahat, seorang nenek tua sedang memutar roda alat pemintal tradisional. Tangan kirinya mengarahkan kapas yang akan digulungnya. Dengan telaten ia melakukan itu. Sesekali ia menghentikan putarannya, merapikan uliran kapas yang hendak digulungnya. Selama aktifitasnya, tak ada satu katapun yang ia ucapkan. Jangankan kata, terlihat tersenyumpun tidak. Sepertinya ia tak merasa ada orang lain disekitarnya. Apakah itu kebuasaan di lingkungannya terhadap orang luar yang datang?, sayapun tak tahu. Bagi kami orang luar, sikap seperti itu aneh. Tetapi bagi mereka tentunya tidak.
Tak hanya nenek itu, dikampung yang alami ini banyak sekali perempuan lansia. Mereka nampak sehat meski tubuhnya telah dimakan usia. Aktifitas memintal, dan aktifitas lain yang dilakukan menandakan tubuh sehat mereka.
Setua itu masih nampak bugar, kondisi seperti ini jarang ditemui di perkotaan. Aktifitas dan pola makan mereka bisa jadi penyebab adanya perbedaan dengan masyarakat yang hidup dan tinggal kota. Atau bisa jadi karena mereka hidup sederhana, sehingga beban hidup mereka lebih ringan dan berdampak baik terhadap kesehatnnya.
Cerita yg menarik soal suku baduy. Sedikit saran y pak, story telling bpk sudah bagus tapi klo ceritanya ada gambar di artikel pasti jauh lebih menarik.
BalasHapusTerimakasih masukannya bapak.
HapusIndonesia Raya.. melimpah kekayaan budaya..
BalasHapusTernyata pak Dadang belum move on dari Dewi,
BalasHapus