Tips Sehat Sesuai Usia.
Berpapapun usia seseorang, olahraga itu penting. Mengapa olahraga penting?, karena olahraga menyehatkan, dan semua orang butuh badan yang sehat dan kuat.
Biasanya setelah olahraga, badan terasa lebih segar, lebih riang, dan menjalankan aktifitas lebih semangat. Ketika ketiga rasa itu ada, maka seseorang akan lebih produktif.
Olahraga itu harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan usia seseorang. Orang yang fisiknya lebih kuat, bisa memilih olahraga berat. Bela diri adalah salah satu olahraga berat yang dapat dipilih. Olahraga duel ini sarat dengan benturan, dan bisa menimbulkan cedra bagi atlitnya. Sehingga yang memilih olahraga ini harus benar-benar memiliki fisik yang prima.
Selain kondisi fisik, memilih jenis olahraga yang dilakukan harus mempertimbangkan usia. Ketika sudah tidak muda lagi, kondisi fisik akan menurun, kondisi ini mengharuskan seseorag memilih olahraga ringan. Jenis olah raga ringan yang dapat dipilih adalah jogong, bersepedah, atau berkalan kaki.
Saya merasa muda, meski sebenarnya sudah tak muda lagi. Mau tidak mau mengharuskan saya memilih olahraga yang tepat, sesuai dengan usia. Olahraga ringan yang saya pilih adalah jalan santai. Biasanya jalan santai yang saya lakukan di hari Ahad pagi.
Saya dan keluarga sering berolahraga ringan berjalan kaki. Jarak yang ditempuh hanya sekitar 4 KM. Rute yang pilih melewati jalan yang tak terlalu ramai, dan cendrung sepi kendaraan yang berlalu lalang. Hal ini mengurangi resiko bahayanya jalan raya. Jalur ini biasa saya ambil. Pertimbangan memilih rute ini adalah adanya beberapa penjual yang menyediakan menu sarapan pagi. Hal itu membuat istri, dan dua anak saya selalu semangat jika diminta ikut jalan santai di Ahad pagi.
Pekan lalu, saya dan keluarga berjalan santai. Sejak hari masih remang-remang, saya bersiap. Menyiapkan satu stel pakaian olahrag, sepatu, dan kaus kaki. Tepat jam 05.30 kami keluar dari dalam rumah untuk mulai berjalan pagi. Si bungsu memilih mengeluarkan sepeda, ia ingin goes mengikuti kami yang melangkah di depannya. Saya mengiyakan keinginannya, karena jika tak di acc usulnya, pasti cemberut sepanjang jalan.
Perjalanan dimulai, saya berjalan didepan. Melangkah lebih cepat karena ingn banyak mengeluarkan keringat. Dinginnya pagi masih sangat terasa, sehingga jika gerakannya lambat, maka deras keringat akan sulit keluar dari dalam tubuh.
Kaus yang dikenakan, sudah basah dengan keringat. Lelah sudah sangat terasa. Istri dan si kaka, juga terlihat lelah. Sementara si bungsu yang mengikuti dibelakang dengan menaiki sepedah, terlihat lebih santai. Ia masih bisa tertawa lepas karena melihat kami yang kelelahan.
Jalan yang kami lewati sengaja memilih jalur yang tak terlalu padat dengan rumah penduduk. Melewati kebun dan empang-empang peternak ikan. Udara segar masih terasa disana. Oksigen yang baru dihasilkan dari proses potosintesis pepohonan, bisa langsung kami hirup.
Setelah beberapa lama berjalan kami memilih istirahat, mencari tempat duduk yang nyaman. Tempat nyaman itu adalah bangku warung yang menyediakan menu sarapan. Sebenarnya sudah banyak warung yang telah dilewati, tetapi saya memilih warung ini, warung dengan pohon rindang diatasnya. Sejuk hawanya, dan bersih warungnya. Meja dan bangku di bawah pohon itu kami pilih untuk duduk dan istirahat.
Di warung sederhana itu saya menikmati makanan yang di sediakan. Nasi ketan dicetek berbentuk bulat yang ditaburi parutan kelapa jadi pilihan sarapan kali ini. Gurih sekali rasanya. Parutan kelapa yang jadi toping ketan itu bukan kelapa tua, atau yang terlalu muda. Meski bukan dari kelapa yang tua, tetapi parutan kelapa itu sudah mengandung santan. Dari rasa gurih dilidah diketahui kelapa yang digunakan sudah mengandung santan. Rasa gurih semakin tajam, karena parutan itu diberi sedikit garam.
Di warung itu Istri hanya mengambil sepotong gemblong ketan hitam yang berselimut gula merah. Sepertinya gemblong itu tak murni 100% menggunakan ketan hitam. Harga ketan hitam yang lebih tinggi sehingga pedagang mensiasatinya dengan mencampur ketan putih. Meski di campur, rasa gemblong yang dijual di warung itu tetap ngangenin.
Kaka memilih sayur lontong, sepertinya nikmat sekali. Lontong di piring, disiram dengan kuah sayur. Dalam kuah itu ada campuran pepaya muda, dan potongan kacang panjang. Bawang goreng, dan kerupuk juga ditaburi diatasnya. Sesekali saya menoleh ke arah piring berisi lontong sayur yang dipegang kaka. Aroma yang menebar dan cara kaka menikmati sayur lontong itu, membuat saya kembali menoleh kearahnya.
Si bungsi memilih nasi uduk plus gorengan sebagai menu sarapannya. Satu goreng tempe tepung, dan tahu goreng isi diambilnya dari nampan yang ada di meja warung. Tak butuh lama, satu piring nasi uduk itupun bersih tanpa sisa.
Meski memilih menu makanan berbeda, tetapi untuk minimnya kami sepakat sama, teh medok hangat. Nikmat sekali rasanya sarapan pagi ini.
Matahari bergerak meninggi, kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Perut yang sudah terisi, membuat kami berjalan lebih lambat dibandingkan sebelum sampai ke warung itu.
Olahraga menyhatkan
BalasHapusSaya malah disarankan untuk rajin olahraga . Tapi karna kerepotan jadi jarang.
Mumpung masih bisa olah-raga
Ayok budayakan olahraga