Bantu Jawab Dong?
"Kapan kerja?."
"Kapan kamu menikah?"
"Sudah punya anak belum?"
Suatu hari saya bertemu dengan seorang perempuan Belanda, namanya Klaartje Groot. Ia masih lajang, usianya sekitar 30 tahun. Kami jumpa di jalan, berpapasan kala saya hendak menuju sekolah tempat saya mengajar. Kami berbincang sambil berdiri di sisi jalan. Karena hujan, perbincangan berhenti. Kami janji akan melanjutkan perbincangan itu setelah Magrib di taman baca Multatuli kampung Ciseel.
Tiba waktunya, kami kembali jumpa. Berbincang menyerap informasi kehidupan masyarakat Belanda langsung dari warga negaranya. Saya banyak bertanya, hingga tentang kehidupan pribadi Klaartje Groot. Menanyakan status lajangnya, dan agama yang ia anut. Dia tak keberatan menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi. Meski akhirnya ia menjelaskan bahwa mengajukan pertanyaan seperti itu adalah tindakan tidak sopan bagi orang Eropa. Ia memahami sikap saya yang melontarkan pertanyaan seperti itu. Ia faham bahwa pertanyaan pribadi bukan bentuk dari ketidak sopanan di negeri ini.
Di negeri ini, pertanyaan seperti itu sering kita dapatkan, atau mungkin kita salah satu yang sering melontarkan pertanyaan seperti itu. Memang risih ketika mendapatkan pertanyaan yang bersifat pribadi. Kita seolah tertuduh, salah mengambil keputusan, dan memiliki sikap tak lazim yang berbeda dengan kebanyakan orang.
Tiap orang memiliki perbedaan. Bukan hanya berbeda fisik, pola pikir, prinsip hidup juga berbeda. Keputusan yang diambil bisa saja berbeda, meski ada di posisi yang sama dengan orang lain.
Ketika lulus menempuh pendidikan, idelanya seseorang bisa mudah masuk ke dunia kerja. Tetapi ada beberapa orang yang meski sudah menyelesaikan pendidikannya, tetapi masih saja belum mendapat pekerjaan. Kondisi ini jadi penyebab yang bersangkutan akan mendapat pertanyaan. "Ko belum kerja, mengapa?"
Keputusan menunda masuk ke dunia kerja bisa jadi karena hal yang perinsip. Atau memang belum diterima kerja meski sudah berusaha sekuat tenaga. Begitu pula dengan keputusan menunda pernikahan. Ini bisa jadi karena banyak faktor yang orang lain tak tahu, atau tak perlu tahu.
Saya sering mendapatkan pertanyaan pribadi. Kadang merasa kesulitan dalam menjawabnya. Prinsip orang berbeda, sehingga sikap dalam memutuskan sesuatu masalah juga berbeda. Kemampuan tiap orang berbeda, sehingga cara menyelesaikan masalah yang adapun berbeda.
"Ko belum mutasi, ?"
"Dikira sudah jadi kepala?"
"Tidak mau pindah tugas karena punya istri ke dua ya di gunung?"
Mohon dibantu menjawabnya....
ðŸ¤jawab aja dengan senyuman. Mungkin sebagian dr mereka melontarkan pertanyaan tsb tidak sungguh2 ingin bertanya.hal tsb bukan SBG bentuk kesopanan..tp hanya sekadar sapaan ketika bertemu.#wallahu alam bisshowwab mungkin juga mereka bersungguh2 ingin menanyakannya. Dipertanyakan terakhir Kade nya ðŸ¤
BalasHapusTerimakasih komentarnya. 🤗
Hapus