Rasa Iklas
Sudah berpuluh tahun peristiwa itu terjadi. Tetapi seperti belum bisa menyadari bahwa semua ini takdir. Takdir yang tak mungkin bisa diputar kembali.
Ketika masalah hadir menghampiri, pastilah teringat peristiwa silam yang kelam itu. Kadang berandai-andai jika peristiwa kelam itu tak terjadi. Padahal mestinya sudah tak seperti itu lagi. Harusnya sudah mengikhlaskan kepergiannya untuk berjumpa dengan sang Kholik.
Ketika masih duduk di bangku kelas 3 SD ibuku pergi untuk selamnya. Meninggalkan kami anak-anak tercintanya. Penyakit yang diderita bertahun-tahun telah menggerogoti tubuhnya, dan akhirnya ia pergi untuk selamnya.
Kami anak-anaknya terpukul sekali. Aku tak terbayang harus ditinggal ibu tercinta ketika masih sekecil itu. Kala sedang membutuhkan belaian dan kasih sayang seorang ibu. Jangankan makan, mandipun aku harus dimandikan. Apalagi mencuci pakain, pergi ke sekolahpun harusnya aku masih diantar oleh ibu.
Aku rindu ibu, aku ingin memeluknya. Tapi itu sudah tak mungkin lagi. Ketika masalah hadir kerinduan itu semakin menjadi. Berandai ibu ada disamping ku. Air mata tak terbendung kala terlintas wajah ibu. Ya hingga kini masih terus merindukannya, meski sudah tak mungkin lagi bisa berjumpa.
Iklas melepas kepergiannya sudah pasti. Menerima semua itu sebagai sebuah ketetapan-Nya sebuah keharusan. Tetapi merindukannya tak pernah akan hilang.
Semoga rinduku kepada ibu, bukanlah penolakan atas takdir yang sudah ditetapkan. Aku ikhlas atas kepergianmu ibu.
Semoga Bundanya mendapatkan tempat di Sisi Rob.
BalasHapusDoa anak sholih yang akan menghiasi hari - hari ibu di sisiNya
BalasHapusAllaahummagfirlahaa wa'afihaa wa'fu'anha..
BalasHapus