Dulu dan Sekarang Sama Saja.
Tak hanya mandi, dan mencuci tenda. Mereka juga punya agenda khusus. Ngaliwet. Ya, mereka akan ngaliwet di sisi sungai.
Siswa yang berangkat dari sekolah menuju sungai, mengendarai sepeda motor. Sebagian siswa ada pula yang memilih berjalan kaki. Mereka yang memilih berjalan karena memang sudah terbiasa. Saya memilih berkendara. Karena jarak yang ditempuh dari sekolah ke sungai relatif jauh. Jarak yang jauh akan melelahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Terlebih medan jalan yang turun naik. Lutut terasa ngilu jika melewati medan menanjak atau turun.
Saya tak berangkat konvoi bersama para siswa. Karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Selang 20 menit barulah saya pergi menyusul mereka menuju sungai.
Ketika saya sampai, terlihat beberapa siswa telah berada di dalam sungai. Mereka begitu menikmati derasnya air sungai. Mandi, berenang, dan bersendagurau dengan pakaian basah yang dikenakannya.
Air sungai terlihat jernih. Karena sejak kemarin di hulu tak turun hujan. Air yang jernih membuat mereka betah berlama-lama di dalam sungai. Selain itu tenda yang dicuci di air jernih, akan lebih beraih.
Tak semua siswa masuk kedalam sungai untuk mandi dan mencuci tenda. Beberpa memilih menyiapkan kayu bakar untuk ngaliwet. Tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan kayu bakar. Di sisi sungai banyak potongan ranting yang terbawa arus deras ketika banjir. Ranting itu nampak sudah mengering. Ranting yang mengering itu akan lebih cepat untuk memanaskan katel liwet.
Satu tenda selesai dicuci. Segera diangkut bersama dari sungai. Tak menunggu lama langsung dijemur di sisi kiri jembatan bambu yang menghubungkan kedua sisi sungai. Setelah satu tenda dijemur, mereka kembali turun ke sungai. Mencuci satu buah tenda lagi yang masih kotor.
Liwet hampir masak, ketika tenda kedua selesai dicuci bersih. Tenda kedua ini dijemur di sisi sebelah kanan jembatan bambu itu. Kedua tenda sudah selesai dicuci dan dijemur. Semua bersiap pada nasi liwet yang akan segera masak.
Empat lembar daun pisang diletakan memanjang di saung. Saung lumayan besar yang dapat menampung 20 siswa. Liwet yang sudah masak diangkat. Nasi yang sudah masak dituangkan di atas daun pisang yang hijau segar.
Nasi yang sudah di atas daun, ditaburi kerupuk, dan ikan asin. Sambel diletakan di sisi nasi pada beberapa titik. Lalab selada air, kemangi, dan poh-pohan membuat menu semakin menggugah selera.
Setelah siap, semua diminta berdoa. Selesai berdoa, serentak mulai menikmati makan siang bersama. Terlihat begitu nikmat mereka. Perut yang kosong setelah mandi dan mencuci tenda. Membuat semakin lahap menyuap nasi hangat dan lauk sederhana.
Tenda yang dijemur, sudah mulai kering. Siap untuk dilipat dan dimasukan kedalam kantung. Nasi sisa makan yang berserakan mulai dibersihkan. Ini tanda acara akan selesai. Mereka akan segera kembali ke rumah.
Kami meninggalkan saung. Meniti pematang berkelok di tengah sawah. Menuju jembatan bambu yang menghubungkan kedua sisinya.
Sungai telah kami tinggalkan. Perlahan semakin menjauh dan mulai memasuki kampung Babakan Aceh. Di kampung itu riak air sungai nyaris tak terdengar lagi, meski dari kejauhan aliran berkeloknya masih terlihat.
Sejenak beristirahat di depan rumah salah satu penduduk di kampung itu. Rumah sederhana Pak Masita.
Baru saja menghempaskan untuk duduk, sang empunya rumah sudah menyuguhi air putih. Nampan berisi empat buah gelas bening. Satu buah teko alumunium yang sepertinya sudah lama digunakan. Berisi penuh air putih.
Tuan rumah mempersilahkan kami untuk minum. Saya mulai membalikan gelas yang ada diatas nampan. Setelah itu, gelas mulai diisi satu persatu. Setelah terisi, saya meneguk salah satunya. Dua rekan guru ikut meneguk. Saya kembali menungkan isi teko kedalam gelas, karena haus masih terasa.
Kami mulai berbincang. Saya lebih suka mendengarkan. Saya tak memotong pembicaraan pak Masita. Dalam tiap perbincangan, saya jarang sekali memotong pembicaraan. Saya lebih suka mendengarkan. Lebih suka mendengarkan, karena saya akan menuangkan cerita yang didengarkan itu lewat tulisan seperti ini.
Pak Masita menceritakan ketika dirinya masih sekolah dulu. 40 tahun lalu ia aktif sebagai anggota Pramuka di SD. Ia menceritakan keseruan yang dialami ketika ia mengikuti kegiatan pramuka.
"Bapakmah heubel sok jadi ketua regu" itu ucapnya. Dengan berapi-api ia menceritakan peristiwa lampau yang pernah diikuti.
Ia memperagakan berdiri tegap dan memberi hormat, yang pernah diajarkan pembinanya dulu.
Rautnya berubah, ia terlihat sedih ketika menyebutkan nama pembinannya yang sudah tiada.
Tak lama tawa kembali terlihat dari bibirnya. Giginya yang menghitam, beberapa ada yang terlihat tanggal.
"Bapakmah heubel sok ngaheureyan awewe nu ngiring Pramuka". Tawanya semakin lebar.
Saya hanya tersenyum mendengar ceritanya. Coba membandingkan yang pak Masita dulu lakukan, dengan yang saya lakukan ketika sekolah dulu. Ketika saya mengikuti kegiatan Pramuka. Ternyata sama saja.
(Jangan langsung meninggalkan laman ini. Mohon komentarnya)
Ceritanya harus ada sbungannya ini, antara meneruskan cerita pak Masita atau cerita penulis yang meski sama saja tapi tetap penasaran
BalasHapusTerimakasih jika penasaran
HapusLuarbiasa bapa
BalasHapusTerimakasih pak Iip.
HapusRecount Induktif, simpulan cerita ada di akhir alinea. "Ngaheureuyan budak awéwé" merupakan salah satu yang Pak Masita dan penulis lakukan dalam kegiatan kepramukaan.
BalasHapusNamun, ada hal yang penulis mungkin lupa bahwa Pak Masita dan penulis sama-sama "dulu". Kabuur...!
Hmmm... pa Kepsek
HapusOh itu yg samanya ya? 😁
BalasHapusDulu, waktu masih SD ambu. Ayeunamah henteu.. 😊
Hapus