Mengantar Pejuang
Pagi itu kami harus berangkat mengantar salah satu dari kami untuk pergi. Mengantar teman mengajar ke tempat tugas baru sudah menjadi tradisi. Begitu pula hari ini. Kami serombongan dengan 4 kendaraan roda dua konvoi menuju SMPN 2 Sobang. Mengantar pak Sunaryo yang baru saja ditugasi menjadi kepala sekolah disana.
Berangkat dari sekolah sekitar pukul 9 pagi. Mesin dinyalakan, kamipun memulai perjalanan. Hujan yang turun semalam masih membekas. Genangan air di jalan yang berlubang masih belum mengering. Beberapa titik, bekas lumpur yang terbawa arus menutupi jalan. Licin, hingga harus konsentrasi penuh mengendarai si roda dua.
Saya terhenti di ujung jalan yang menanjak. Jalan batu, menanjak, dan licin. Saya menengok hingga ujung tanjakan dari jok motor dengan mesin tetap menyala. Sejenak berfikir sisi jalan mana yang harus di pijak kedua roda kendaraan yang saya kendari.
Saya tarik gas, memutuskan untuk mengambil sisi kiri. Mesin menderu, roda berputar cepat. Meski demikian laju kendaraan tak bisa bergerak cepat. Ditengah tanjakan setang dibelokan ketengah. Jalan di tengah agak lebih baik untuk dipijak. Tak lama, kembali stang dibanting ke sisi kiri. Jalan di kiri nampak lebih rata di banding pada bagian tengah dan kanan.
Akhirnya sampai di ujung tanjakan. Saya berhenti, menunggu teman lain yang berjuang melalui tanjakan kampung Cireundeu yang melelahkan. Trek yang baru saja saya lewati diikuti oleh teman yang menanjak kemudian.
Satu persatu sampai di ujung tanjakan. Semua sampai, berbaris disis jalan. Kami tak langsung melanjutkan perjalanan. Istitahat menghirup udara segar dengan posisi tetap duduk dikendaraan masing-masing. Jalan yang sulit membuat kami kelelahan. Keringat bercucuran hingga terasa basah ditubuh.
Selepas tanjakan ekstrim itu, kami memasuki jalan yang lumayan mulus. Jalan membelah kampung Cireundeu. Sisi kiri dan kanan rumah berderet. Beberapa ibu muda duduk-duduk di balai depan rumah sederhana mereka, sambil memangku anak balitanya.
"Mampir pa... ". Mereka setengah berteriak menawari kami mampir. Saya hanya mengangguk, dan melempar senyum. Saya sengaja menaikan kaca helm, agar wajah ini dikenal mereka. Mereka akan lebih ramah ketika tau yang sedang lewat adalah pa guru.
Di ujung kampung jalan kembali menanjak. Meski tinggi, jalan itu beraspal dan bagus. Hingga tak ada kendala dalam menapakinya.
Kampung Cireundeu sudah kami tinggalkan. Kendaraan bisa lebih cepat kami pacu. Jalan berkelok dengan pemandangan indah. Jalan menanjak dan menurun dilalui. Di beberapa titik sisi kiri dan kanan jalan, melewati sisi lembah yang di bawahnya ada pesawahan hijau menghampar. Indah sekali.
Sesekali saya berhenti untuk menikmati pemandangan. Tak lupa mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar. Setelah mengambil gambar, tak lantas pergi. Cek gambar yang baru saja di jepret dilakukan. Tujuannya untuk melihat kualitas poto yang baru diambil. Jika dirasa kurang bagus, maka harus diulang. Ternyata bagus, dan perjalanan dilanjutkan.
Perjalanan dilanjutkan, jalan menurun panjang dan berkelok tajam kami jumpai. Orang sekitar menyebutnya tanjakan Biksir. Entah diambil dari kata apa nama Biksir itu. Saya menghubungkan nama itu dengan nama gunung yang ada dibelakang sekolah kami. Gunung Menir orang menyebutnya. Konon kata Menir diambil dari bahasa Belanda. Sebutan untuk orang-orang Belanda.
Bisa jadi penamaan Biksir untuk jalan menanjak itu diambil dari nama orang Belanda atau Eropa, Bick Sir. Artinya bapak Bick. Itu hanya perkiraan, aslinya saya tak tahu.
Kami berhenti setelah sampai pertigaan Cikawah. Memastikan kendaraan dan rombongan baik-baik saja. Mesin kendaraan kami matikan untuk istirahat setelah lelah dipacu.
Kami diskusi sebentar, membincangkan acara dalam kegiatan lepas sambut nanti. Meski hanya tamu undangan, tetapi kami harus tau format acaranya. Khawatir diantara kami diminta menyampaikan sepatah kata perpisahan.
Perjalanan di lanjutkan. Kami mengambil arah kanan, arah menuju kecamatan Sobang. Jalan menuju ke sana sedang dibangun. Sisi kiri yang berupa tebing di keruk. Tanah merah hingga berhamburan di jalan. Hujan yang turun semalam membuat jalan sangat licin.
Saya berjalan pelan ketika masuk jalan menurun. Kaki diturunkan agar seimbang. Sesekali kaki kanan kembali dinaikan untuk menginjak pedal rem. Rem depan tak bisa maksimal dijalan menurun, jika dipaksakan motor bisa terjungkal.
Sulit sekali perjalanan itu, hampir saya menyerah. Sayang, pilihan itu tidak ada. Mau tak mau jalan ekstrim itu kami lalui. Perjalanan itu sudah tiga hari lalu. Jika diingat kembali, masih ngilu sekali rasanya.
Jalan berhasil kami lalui, meski menyisakan lelah yang sangat berat. Gerbang SMP 2 Sobang sudah di hadapan kami. Gerbang yang seolah menyambut, dan meminta kami segera masukinya.
Kami serombongan menuju tempat parkir kendaraan roda dua. Saya memilih tempat yang teduh di dekat pohon pucuk merah. Yang lain mengikuti, meletakan sepeda motor dibelakang kendaraan saya.
Selesai meletakan kendaraan, kami menuju ruang tamu. Belum sampai di ruang tamu, kami disambut pak Fuad.
Saya menyampaikan salam, pak Fuad langsung membalas ucapan salam saya. Kami bersalaman, dan langsung diminta menuju ruang tamu.
Saya sudah lama mengenal Pak Fuad. Sejak ia pertama bertugas di sekoalah ini. Karena kami teman seangkatan sejak 13 tahun lalu. Beliau adalah putra kelahiran Jawa Timur, yang mengabdi di tanah jawara. Nampak ia kerasan tinggal di pedalaman Banten yang jauh dari keramaian. Jauh dari pasar, atau mini market yang sejuk. Sepertinya gaji tiap bulannya utuh, karena jauh dari tempat yang dapat menghabiskan uang dengan cepat.
Sebagai sahabat lama yang jarang berjumpa, tema pembicaraan kami melebar. Apa saja jadi topik menarik. Terlebih tema promosi sebagai kepala sekolah. Teman seangkatan kami sudah banyak yang menduduki sebagai kepala sekolah.
Disela keseruan perbincangan itu, kami diminta masuk ke ruang acara. Acara lepas sambut akan segera dimulai. Kegiatan berlangsung di ruang lab sekolah. Ruangan itu bersih dan nyaman. Lantainya putih nampak terawat. Meja dan kursi ditata berhadapan. Saya duduk di sisi kanan, sementara pak Fuad duduk di sebrang temapat dimana saya duduk.
Pak Sunaryo sudah resmi menjadi kepala di SMP 2 Sobang. Tak pernah terpikir kami akan berpisah.
"Kalau sudah tiada baru terasa, karena kehadiranya begitu berharga"
Banya peristiwa yang kembali membayang kala kami masih bersama. Wong Jowo hideung bedegul ini pandai bergaul. Komunikasi dengan Bahasa Sundanya nyaris tanpa cela. Tak nampak sedikitpun logat kampung asalnya.
Kala logistik menipis, saya bebrapa kali menyambangi kediamannya. Untuk sekedar mengisi perut, supaya bisa tertidur pulas di rumah dinas. Tak hanya itu, beberapa kali saya mengajukan pinjaman sekedar membeli bensin. Agar bisa pulang di akhir pekan untuk bisa kembali jumpa dengan keluarga.
Perbedaan pendapat dengannya sering terjadi. Tetapi tak melebar menjadi konflik. Kesibukannya yang sering membuat saya hanya sendiri disekolah, sangat menjengkelkan. Tapi rasa itu reda, kala saya coba mengerti sikapnya itu. Yah, konflik pasti dijumpai dimana saja. Kedewasaan dan kemampuan berfikir mampu meredam, hingga kami bisa bersama meski banyak hal nampak besebrangan.
Dalam banyak kesempatan ia selalu menyatakan tak berminat menduduki posisi itu. Tetapi takdir berkata lain. Sang Maha Membolak-balikan hati menghendaki ia menjadi orang no. 1 di sekolah itu.
Selamat bertugas ditempat yang baru Mas. Semoga terus bersemangat membangun bangsa.
Berangkat dari sekolah sekitar pukul 9 pagi. Mesin dinyalakan, kamipun memulai perjalanan. Hujan yang turun semalam masih membekas. Genangan air di jalan yang berlubang masih belum mengering. Beberapa titik, bekas lumpur yang terbawa arus menutupi jalan. Licin, hingga harus konsentrasi penuh mengendarai si roda dua.
Saya terhenti di ujung jalan yang menanjak. Jalan batu, menanjak, dan licin. Saya menengok hingga ujung tanjakan dari jok motor dengan mesin tetap menyala. Sejenak berfikir sisi jalan mana yang harus di pijak kedua roda kendaraan yang saya kendari.
Saya tarik gas, memutuskan untuk mengambil sisi kiri. Mesin menderu, roda berputar cepat. Meski demikian laju kendaraan tak bisa bergerak cepat. Ditengah tanjakan setang dibelokan ketengah. Jalan di tengah agak lebih baik untuk dipijak. Tak lama, kembali stang dibanting ke sisi kiri. Jalan di kiri nampak lebih rata di banding pada bagian tengah dan kanan.
Akhirnya sampai di ujung tanjakan. Saya berhenti, menunggu teman lain yang berjuang melalui tanjakan kampung Cireundeu yang melelahkan. Trek yang baru saja saya lewati diikuti oleh teman yang menanjak kemudian.
Satu persatu sampai di ujung tanjakan. Semua sampai, berbaris disis jalan. Kami tak langsung melanjutkan perjalanan. Istitahat menghirup udara segar dengan posisi tetap duduk dikendaraan masing-masing. Jalan yang sulit membuat kami kelelahan. Keringat bercucuran hingga terasa basah ditubuh.
Selepas tanjakan ekstrim itu, kami memasuki jalan yang lumayan mulus. Jalan membelah kampung Cireundeu. Sisi kiri dan kanan rumah berderet. Beberapa ibu muda duduk-duduk di balai depan rumah sederhana mereka, sambil memangku anak balitanya.
"Mampir pa... ". Mereka setengah berteriak menawari kami mampir. Saya hanya mengangguk, dan melempar senyum. Saya sengaja menaikan kaca helm, agar wajah ini dikenal mereka. Mereka akan lebih ramah ketika tau yang sedang lewat adalah pa guru.
Di ujung kampung jalan kembali menanjak. Meski tinggi, jalan itu beraspal dan bagus. Hingga tak ada kendala dalam menapakinya.
Kampung Cireundeu sudah kami tinggalkan. Kendaraan bisa lebih cepat kami pacu. Jalan berkelok dengan pemandangan indah. Jalan menanjak dan menurun dilalui. Di beberapa titik sisi kiri dan kanan jalan, melewati sisi lembah yang di bawahnya ada pesawahan hijau menghampar. Indah sekali.
Sesekali saya berhenti untuk menikmati pemandangan. Tak lupa mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar. Setelah mengambil gambar, tak lantas pergi. Cek gambar yang baru saja di jepret dilakukan. Tujuannya untuk melihat kualitas poto yang baru diambil. Jika dirasa kurang bagus, maka harus diulang. Ternyata bagus, dan perjalanan dilanjutkan.
Perjalanan dilanjutkan, jalan menurun panjang dan berkelok tajam kami jumpai. Orang sekitar menyebutnya tanjakan Biksir. Entah diambil dari kata apa nama Biksir itu. Saya menghubungkan nama itu dengan nama gunung yang ada dibelakang sekolah kami. Gunung Menir orang menyebutnya. Konon kata Menir diambil dari bahasa Belanda. Sebutan untuk orang-orang Belanda.
Bisa jadi penamaan Biksir untuk jalan menanjak itu diambil dari nama orang Belanda atau Eropa, Bick Sir. Artinya bapak Bick. Itu hanya perkiraan, aslinya saya tak tahu.
Kami berhenti setelah sampai pertigaan Cikawah. Memastikan kendaraan dan rombongan baik-baik saja. Mesin kendaraan kami matikan untuk istirahat setelah lelah dipacu.
Kami diskusi sebentar, membincangkan acara dalam kegiatan lepas sambut nanti. Meski hanya tamu undangan, tetapi kami harus tau format acaranya. Khawatir diantara kami diminta menyampaikan sepatah kata perpisahan.
Perjalanan di lanjutkan. Kami mengambil arah kanan, arah menuju kecamatan Sobang. Jalan menuju ke sana sedang dibangun. Sisi kiri yang berupa tebing di keruk. Tanah merah hingga berhamburan di jalan. Hujan yang turun semalam membuat jalan sangat licin.
Saya berjalan pelan ketika masuk jalan menurun. Kaki diturunkan agar seimbang. Sesekali kaki kanan kembali dinaikan untuk menginjak pedal rem. Rem depan tak bisa maksimal dijalan menurun, jika dipaksakan motor bisa terjungkal.
Sulit sekali perjalanan itu, hampir saya menyerah. Sayang, pilihan itu tidak ada. Mau tak mau jalan ekstrim itu kami lalui. Perjalanan itu sudah tiga hari lalu. Jika diingat kembali, masih ngilu sekali rasanya.
Jalan berhasil kami lalui, meski menyisakan lelah yang sangat berat. Gerbang SMP 2 Sobang sudah di hadapan kami. Gerbang yang seolah menyambut, dan meminta kami segera masukinya.
Kami serombongan menuju tempat parkir kendaraan roda dua. Saya memilih tempat yang teduh di dekat pohon pucuk merah. Yang lain mengikuti, meletakan sepeda motor dibelakang kendaraan saya.
Selesai meletakan kendaraan, kami menuju ruang tamu. Belum sampai di ruang tamu, kami disambut pak Fuad.
Saya menyampaikan salam, pak Fuad langsung membalas ucapan salam saya. Kami bersalaman, dan langsung diminta menuju ruang tamu.
Saya sudah lama mengenal Pak Fuad. Sejak ia pertama bertugas di sekoalah ini. Karena kami teman seangkatan sejak 13 tahun lalu. Beliau adalah putra kelahiran Jawa Timur, yang mengabdi di tanah jawara. Nampak ia kerasan tinggal di pedalaman Banten yang jauh dari keramaian. Jauh dari pasar, atau mini market yang sejuk. Sepertinya gaji tiap bulannya utuh, karena jauh dari tempat yang dapat menghabiskan uang dengan cepat.
Sebagai sahabat lama yang jarang berjumpa, tema pembicaraan kami melebar. Apa saja jadi topik menarik. Terlebih tema promosi sebagai kepala sekolah. Teman seangkatan kami sudah banyak yang menduduki sebagai kepala sekolah.
Disela keseruan perbincangan itu, kami diminta masuk ke ruang acara. Acara lepas sambut akan segera dimulai. Kegiatan berlangsung di ruang lab sekolah. Ruangan itu bersih dan nyaman. Lantainya putih nampak terawat. Meja dan kursi ditata berhadapan. Saya duduk di sisi kanan, sementara pak Fuad duduk di sebrang temapat dimana saya duduk.
Pak Sunaryo sudah resmi menjadi kepala di SMP 2 Sobang. Tak pernah terpikir kami akan berpisah.
"Kalau sudah tiada baru terasa, karena kehadiranya begitu berharga"
Banya peristiwa yang kembali membayang kala kami masih bersama. Wong Jowo hideung bedegul ini pandai bergaul. Komunikasi dengan Bahasa Sundanya nyaris tanpa cela. Tak nampak sedikitpun logat kampung asalnya.
Kala logistik menipis, saya bebrapa kali menyambangi kediamannya. Untuk sekedar mengisi perut, supaya bisa tertidur pulas di rumah dinas. Tak hanya itu, beberapa kali saya mengajukan pinjaman sekedar membeli bensin. Agar bisa pulang di akhir pekan untuk bisa kembali jumpa dengan keluarga.
Perbedaan pendapat dengannya sering terjadi. Tetapi tak melebar menjadi konflik. Kesibukannya yang sering membuat saya hanya sendiri disekolah, sangat menjengkelkan. Tapi rasa itu reda, kala saya coba mengerti sikapnya itu. Yah, konflik pasti dijumpai dimana saja. Kedewasaan dan kemampuan berfikir mampu meredam, hingga kami bisa bersama meski banyak hal nampak besebrangan.
Dalam banyak kesempatan ia selalu menyatakan tak berminat menduduki posisi itu. Tetapi takdir berkata lain. Sang Maha Membolak-balikan hati menghendaki ia menjadi orang no. 1 di sekolah itu.
Selamat bertugas ditempat yang baru Mas. Semoga terus bersemangat membangun bangsa.
Komentar
Posting Komentar